Header Ads

Implikasi Trumponomics Terhadap Amerika dan Negara TPP


Presiden Terpilih AS Donald Trump mengungkapkan niat melepaskan keterlibatan AS dalam kesepakatan perdagangan Trans-Pacific Partnership (TPP), sebagai bagian rencana kerja 100 hari pertamanya

Dalam video berdurasi 1,5 menit yang dirilis hari ini, ia mengatakan akan langsung menarik AS dari kesepakatan tersebut di hari pertamanya sejak pelantikan. Menyebut kesepakatan itu sebagai “bencana” bagi AS, Trump berencana mengirimkan pernyataan resmi mundur dari perjanjian yang dicetus Presiden Obama.

Dalam video tersebut, ia mengatakan akan menegosiasikan kesepakatan perdagangan bilateral yang adil dan yang dapat mengembalikan lapangan kerja ke Amerika. “Agendaku berdasarkan prinsip sederhana, memprioritaskan warga AS. “Saya ingin generasi inovasi dan produksi terbentuk di tanah air, menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan pada pekerja AS,” katanya.

Sejak kampanye, Trump memang kerap mencibir TPP atau segala bentuk perdagangan bebas yang diteken oleh AS. Ia menuding perjanjian perdagangan bebas sebagai penyebab hilangnya banyak lapangan kerja dari AS, terutama di sektor manufaktur. Ia menuduh negara seperti Meksiko dan China sebagai pencuri lapangan kerja. Khusus China, Trump menyebut negara itu sebagai manipulator mata uang karena nilai tukar yuan yang rendah sebagai faktor utama yang menyebabkan begitu banyak barang China masuk ke AS, hingga membuat defisit perdagangan membengkak.

TTP adalah perjanjian perdagangan bebas yang meliputi 12 negara, termasuk Kanada, Jepang, Meksiko dan Australia. Terpilihnya Trump sebagai presiden memang sudah menimbulkan kekhawatiran banyak negara mengenai nasib TPP. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe kemarin mengatakan kesepakatan TPP tidak ada artinya tanpa partisipasi AS. Ia mengatakan sebenarnya perjanjian tersebut tidak bisa direnegosiasikan karena bisa merusak fundamental keseimbangan perdagangan. Di sisi lain, mengulang negosiasi dengan hanya 11 anggota hampir mustahil.




Diberdayakan oleh Blogger.