Header Ads

Yellen: Turbulensi Pasar Dipicu Ketidakjelasan di Tiongkok


Washington – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen menyebut ketidakjelasan kebijakan di Tiongkok atas nilai tukar yuan sebagai pemicu turbulensi di pasar finansial global. Hal tersebut juga memperparah kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.

“Penurunan yuan baru-baru ini makin menebalkan ketidakpastian mengenai kebijakan nilai tukar di Tiongkok dan prospek perekonomiannya,” ujar Yellen, Rabu (10/2), dalam testimoni di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS) di Washington.

Ketidakpastian tersebut, tambah dia, memperbesar volatilitas di pasar finansial global. Di tengah pelemahan ekonomi di luar negeri, kata Yellen, kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan global pun makin menjadi.

Meski Yellen tetap yakin perekonomian Tiongkok tidak akan hard landing, dia menilai ketidakpastian yang berasal dari negara perekonomian terbesar kedua dunia ini adalah faktor penyebab kemerosotan tajam harga-harga komoditas global. Yang paling merasakan dampaknya adalah para eksportir di seluruh dunia.

“Indikator-indikator ekonomi terbaru tidak menunjukkan perlambatan tajam pertumbuhan di Tiongkok. Tapi, ketidakjelasan mengenai dampak negatif kebijakan yuan terhadap perekonomian global yang membuat harga minyak dan komoditas lainnya berjatuhan belakangan ini,” tutur Yellen.

Harga-harga komoditas yang rendah, lanjut dia, bisa menekan kondisi finansial negara-negara eksportir komoditas dan juga perusahaan-perusahaan komoditas di seluruh dunia.

“Jika persoalan-persoalan ini seperti ini timbul, aktivitas dan permintaan di luar negeri bagi ekspor AS bisa melemah dan kondisi pasar finansial bisa terus mengetat,” kata dia.

Yellen mengatakan, perekonomian AS dihadapkan pada risiko-risiko pengetatan finansial domestik dan gejolak perekonomian global.

“Kondisi finansial di AS belakangan ini kurang mendukung pertumbuhan. Ditunjukkan oleh penurunan harga saham secara luas, naiknya biaya pinjaman untuk obligasi-obligasi berisiko lebih tinggi, dan penguatan nilai tukar dolar terus-menerus,” kata Yellen.

Jika perkembangan tersebut berkepanjangan, ujar dia, bisa menekan prospek kegiatan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
The Fed, kata Yellen, masih memperkirakan ekonomi AS tumbuh moderat tahun ini. Data baru penyerapan lapangan kerja dan kenaikan tentatif upah diharapkan mendukung pertumbuhan pendapatan riil dan pada akhirnya belanja konsumen.

Tapi, gejolak pasar di luar negeri bisa mengganjal momentum perekonomian AS dan bisa menyeret turun pertumbuhan. Yellen tidak memberi indikasi apakah The Fed akan mempertimbangkan ulang penaikan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan Maret 2016.

The Fed menaikkan fed funds rate (FFR) menjadi 0,25%-0,50% pada Desember 2015. Selepas kenaikan pertama dalam tujuh tahun, Yellen dalam testimoni itu mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan penyesuaian sikap kebijakan moneter berjalan gradual dan aktivitas ekonomi akan tumbuh moderat selama beberapa tahun ke depan.

Iwan Subarkah/PYA

AFP/Investor Daily

Diberdayakan oleh Blogger.